Segera kukenakan mantel bulu dan sepatu larsku. Aku juga memakaikan topi wool yang hangat di kepalaku. Hari ini aku akan pergi ke laundry untuk mencuci pakaian-pakaianku karena mesin cuci di rumahku sedang rusak. Karena salju turun dengan lebat, sehingga jalan tertutup oleh tumpukan salju, aku memutuskan untuk berjalan kaki, tanpa mobilku. Apalagi tempat itu hanya berjarak 50 meter dari kediamanku.
Saat ini, aku bekerja sebagai direktur muda di perusahaan pembuatan perhiasan emas peninggalan ayahku. Dia menitipkan perusahaan ini untuk dirawat dan dibesarkan, serta diwariskan kembali ke anak cucuku. Meskipun aku sudah memiliki perusahaan yang besar dan berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat di Amerika, ayah selalu mengingatkanku agar tidak sombong dan tetap peduli dengan sesama manusia. Dia adalah figur yang sangat dan selalu kubanggakan dalam kehidupanku.
“Boleh saya tahu nama Anda?” salah satu petugas laundry menanyai namaku setelah aku tiba dan menuju ke tempat pendaftaran. Petugas yang lain segera mengambil pakaian-pakaianku.
“Billy Force, Jr.”
“Alamat Anda?”
“Jalan Dovyna Hills No. 129”
“Baiklah, ini notanya. Pakaian Anda dapat diambil dua hari lagi. Terima kasih,” petugas itu menyerahkan nota cucian kepadaku.
Karena udara sudah mulai bertambah dingin, aku berniat untuk pulang ke rumah. Yang ada di kepalaku hanya segelas anggur dan sepiring crepes untuk menghangatkan diri sesampainya di rumah nanti. Aku segera keluar dari gedung yang sudah agak tua itu.
Dalam perjalanan pulang, langkahku agak lambat karena aku harus menapaki jalan yang penuh dengan tumpukan salju lebih tebal dari sebelum aku keluar rumah tadi. Angin musim dingin bertiup sangat kencang. Kulayangkan pandangan di sekelilingku. Semuanya terlihat seperti es krim vanilla, begitu putih. Tapi sayang, salju tidak berasa manis dan lezat seperti es krim. Mungkin karena sebab itu, hari ini orang-orang di kota memilih berdiam diri di dalam rumah, duduk di depan perapian untuk melawan dingin.
Di salah satu sudut gang sempit, terlihat sesuatu yang berwarna merah kusam dan kedinginan. Segera kudekati benda itu. Ternyata dia adalah seorang anak laki-laki dengan baju kotor berwarna merah dan celana pendek usang, seperti seorang gelandangan. Seketika, setelah melihat anak itu, segera terbesit di pikiranku tentang perkataan ayah, bahwa kita tidak boleh sombong dan harus peduli dengan sesama manusia. Kutanyakan namanya.
“Siapa namamu, Nak?”
“Chris…Chris…Chris…Christian…”jawab anak itu sambil menggigil.
“Pakailah mantel dan topi ini, mungkin ini akan sedikit menghangatkanmu,” aku memberikan mantel dan topi yang kupakai. Kurogoh saku celanaku. Ternyata ada sebungkus kue yang belum sempat ku makan, yang kubawa dari rumah tadi, rencananya untuk mengganjal perutku sebelum sarapan di perjalanan. “Makanlah kue ini. Untuk mengisi perutmu yang kosong, walaupun sedikit”
“Te…te…terimakasih, Pak!”
Sudah jelas, aku merasa kedinginan setelah melepas mantel dan topiku. Tapi kuarasa tidak apa-apa, karena rumahku sudah sangat dekat. Lagipula anak itu lebih membutuhkan kehangatan. Aku segera berjalan agak cepat menuju rumahku.
25 Desember 1998. Natal tahun ini sangat istimewa bagiku. Aku berpacaran dengan seorang wanita yang bekerja sebagai designer di perusahaanku. Dia bernama Tania Kottler. Dia adalah seorang janda yang mempunyai dua orang anank. Tania bercerai dengan suaminya sejak 5 tahun yang lalu. Aku dan Tania saling mencintai. Kami saling menerima dan memaklumi segala kekurangan dan kelebihan yang ada pada diri kami.
Pada tanggal 22 Februari 1999 kami menikah. Sakramen pernikahan kami berlangsung sangat khidmat di gereja St. Mary, Florida. Kami saling bertukar cincin tanda ikatan suci yang mempersatukan kami. Sedangkan, pesta resepsinya kami adakan di kebun belakang rumah kami. Pesta itu sangat meriah karena dihadiri oleh keluarga, kerabat dan relasi kami. Saat-saat itu merupakan moment yang paling berkesan dalam hidup kami.
Setelah menikah aku, Tania dan anak-anak hidup bahagia di rumah kami. Setahu, dua tahun…kami lewati dengan bahagia sampai pada suatu hari.
Saat itu aku pulang dari kantor, tepatnya pukul sepuluh malam. Hujan lebat mengguyur Amerika pada saat itu. Pikiran untuk sangat berhati-hati membayangiku karena rem mobilku agak rusak. Sampai pada tikungan tajam di sisi tebing, aku mulai mengemudi dengan kencang. Aku pikir di balik tikungan tidak ada satu kendaraan pun yang lewat. Saat aku membelok, aku melihat ada sebuah truk kontainer beroda 18 melaju sangat kencang di depanku. Aku kehilangan kendali. Remuk tidak berfungsi. Akhirnya mobilku menabrak benda keras dan besar itu hingga mobilku pipih, hampir menyerupai keripik kentang favoritku. Aku pun tidak sadarkan diri. Ambulan yang datang segera membawaku pergi.
Aku mulai sadarkan diri. Ternyata aku sedang berada di sebuah ruangan yang berbau pahit, seperti bau obat. Di batinku aku bertanya, mengapa aku sendirian di sini? Mengapa tidak ada istri dan anak-anakku? Aku mulai merasakan tubuhku lebih jauh. Entah mengapa ada sesuatu yang hilang pada tubuhku. Ketika melihat ke bawah, aku meneteskan sejumlah air mataku. Aku telah kehilangan kakiku.
Selama kurang lebih satu setengah bulan aku dirawat di rumah sakit, tidak ada satupun anggota keluargaku yang datang menjengukku. Akhirnya aku diperbolehkan dokter untuk pulang tanpa kedua kakiku. Aku harus menghabiskan hariku di kursi roda. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain duduk dan memutar ban benda itu.
Aku telah sampai di depan pintu rumahku. Ku buka pintu rumah. Ternyata rumah ini masih sama seperti yang dulu. Aku sangat sedih. Mengapa tidak ada yang menyambut kepulanganku. Mengapa tidak ada pesta kejutan untukku. Manakah istri dan anak-anak yang kucintai. Ah, itu mereka. Mereka ternyata sedang asyik menonton televisi. Ternyata ibu mertuaku juga ada di sana. Aku berniat untuk sedikit mengubur kesedihanku dan ingin kusapa mereka.
“Papa pulang…”kataku
“Oh…”jawab mereka dengan santai.
Ada apa dengan mereka. Apa mereka sudah tidak menyayangiku lagi seperti dulu…
Hari-hari kuhabiskan dengan hany duduk berdiam diri di rumah. Aku memutuskan untuk berhenti bekerja. Urusan perusahaan telah menjadi tanggungan istriku.
Hari-hari juga kuhabiskan tanpa kasih sayang dari orang-orang di sekelilingku.Mereka acuh tak acuh padaku. Entah apa yang membuat mereka jadi seperti ini.
Suatu hari, saat aku melintas di depan kamar ibu mertuaku, aku mendengar suara Tania ada di dalam ruangan itu. Dia sedang mengobrol dengan ibunya.
“Sebaiknya cepat kau singkirkan suamimu yang tidak bisa apa-apa itu! Dia hanya menyusahkan kita saja.”
Seakan jantungku berhenti berdetak. Jadi ibu mertuaku lah yang telah mendoktrin istri dan anak-anakku untuk mengacuhkan dan tidak mempedulikanku. Ternyata dia lah biang dari semua ini. Dialah penyebab mengapa mereka tidak menyambutku saat aku sampai di rumah, sepulang dari perawatanku di rumah sakit. Tapi aku harus sabar dalam menghadapi semua ini. Aku harus tetap tegar dalam menjalani hidup tanpa kasih sayang dari orang-orang yang kucintai.
Tanggal 23 Desember 2002, aku ditari keluar dari rumahku. Aku diseret ke sebuah sudut di satu gang di rumahku. Padahal udara saat itu sangat dingin karena salju sedang turun. Mereka menyeretku karena mereka akan pindah ke Seatle dan ingin menjual rumahku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa denga kekuranganku ini. Aku hanya bisa sedih, mengapa aku tidak boleh ikut dengan mereka. Padahal hanya merekalah orang-orang yang aku punya dan kucintai dalam hidupku. Mereia segera mengunci pintu rumah, pergi dengan mobil baru istriku dan membiarkanku sendiri kedinginan di tempat ini.
Tiga perempat hari kujalani dengan perut kosong. Ah, aku sangat lapar. Apalagi badanku sudah menggigil kedinginan. Pasti badanku akan bisa hangat jika ada makanan di sini. Dingin sekali.
Pada malam di musim dingin itu, saat aku merasakan tubuhku seperti mulai membeku, ada sebuah mobil mewah yang menghampiriku. Dari pintu yang terbuka keluar seorang pemuda menyapaku.
“Selamat malam, Pak!”
“Malam, Nak,” jawabku sambil kedinginan.
“Apakah bapak kedinginan? Mari ikut saya, Pak!” anak itu mengajakku naik ke dalam mobilnya. Dia segera membawaku ke tempat dimana perumahan besar berdiri dengan gagah. Tidak seperti di kompleks perumahanku, daerah di sini agak ramai karena terletak di pusat kota Florida.
Mobil yang membawaku saat ini segera sampai di depan pintu rumah yang sangat besar.
“Rumah ini seperti istana,”pikirku dalam hati.
Tidak seperti rumahku, rumah ini berukuran ekstra besar dengan taman bunga yang saat ini sedang tertutup salju di depan rumah itu. Pemuda itu segera mempersilakan aku masuk ke dalam rumahnya. Dengan sedikit perjuangan untuk mengangkat kursi rodaku keluar, tentunya. Pemuda itu mendorong kursi rodaku dengan pelan untuk segera masuk ke ruang tamu rumah itu.
Di ruangan itu, ada sesuatu yang rasanya tidak asing bagiku. Aku seperti sudah pernah memilikinya. Ya, mantel bulu dan topi hangat yang tergantung di gantungan jaket berkaki tiga itu adalah benda yang kuberikan kepada seorang anak beberapa tahun yang lalu. Dengan segera mataku dipenuhi dengan air mata yang ingin mengalir keluar.
“Apakah kau Christian, Nak?”tanyaku kepada pemuda itu
“Iya, Pak, saya Christian”
Dia mengajakku ke depan perapian sambil minum kopi dan mulai menceritakan semuanya. Ternyata dia bukanlah seorang gelandangan seperti yamg kukira, melainkan putra dari pemilik perusahaan fashion terkemuka di dunia, Christian Meadows yang hilang selama beberapa hari di musim dingin setelah kabur dari penculik yang membawanya. Aku juga menceritakan tentang keluargaku yang telah membuangku karena aku sudah tidak bisa apa-apa lagi.
“Maukah Anda bekerja dengan saya, sebagai manager saya mungkin…” pemuda itu menawarkan sebuah pekerjaan yang mungkin tidak terlalu berat bagiku.
“Wah…terima kasih, Nak…”jawabku sambil berlinang air mata.
Selain memberikan sebuah pekerjaan, pemuda itu juga memberikanku sebuah rumah yang cukup besar. Aku sangat senang, bahagia dan bersyukur sekali atas apa yang kudapat. Ternyata benar, kata orang bijak, hidup ini seperti roda, berputar dari bawah ke atas dan ke bawah, ke atas lagi. Orang yang pernah merasakan kebahagiaan pasti pernah merasakan pahitnya kehidupan. Dan sedikit kebahagiaan yang kuberikan memberiku lebih banyak kebahagiaan dalam pahitnya kehidupanku.
create by adigunaxz
Kamis, 20 November 2008
Langganan:
Postingan (Atom)
